Bantuan » Bantuan » Tema » PEMUDA… YUK, TUNJUKAN KARYA TERBAIKMU!

  • DiAH TRISNAMAYANTI

    (@d14htrisnamayanti)


    PEMUDA…
    YUK, TUNJUKAN KARYA TERBAIKMU!
    Oleh
    Diah Trisnamayanti, S.S.

    Assalamu’alaikum,
    Salam Guru Penggerak, Salam Literasi.
    Namaku Diah Trisnamayanti, pengajar Bahasa Inggris yang sudah mengajar kurang lebih 10 tahun di SMKS MedikaCom Kota Bandung – Jawa Barat. “Sudah layakkah aku menjadi guru penggerak Indonesia?”
    PEMUDA.. YUK, TUNJUKAN KARYA TERBAIKMU!
    Bangsa Indonesia adalah bangasa yang besar tidak hanya terlihat pada kepulauan yang dimiliki, kekayaan bahkan penduduknya. Pemuda-pemudi Indonesia adalah Pemuda yang besar melalui cara berpikirnya.
    Masih ingatkah semboyan Ki Hajar Dewantoro “Ing Ngarso sun tulodo, Ing Madya Mangun karso, Tut Wuri Hadayani”?
    ING NGARSO SUN TULODO
    Guru sebagai suri-tauladan bagi muridnya. Dia harus terdepan dan memberi contoh tentang perilaku, perkataan dan pola berpikir.
    Medan perangku sebagai guru adalah kelas. Murid-muridku ku anggap sebagai prajurit yang harus maju ke garis depan; sudah pasti mereka harus dibekali strategi yang mumpuni dalam peperangan melawan perilaku negatif, perkataan tidak baik, dan pemikiran tak terlihat yang akan menghancurkan mereka dan bangsa besar ini.
    Oleh karena itu, aku harus memberitahukan kepada mereka bagaimana mereka melangkah, bagaimana mereka bersikap, berperilaku, berbudaya, serta mengambil kesempatan untuk masa depan mereka yang lebih baik.
    Aku terus belajar agar mampu mengungkapkan strategi yang mudah diserap bagi kebaikan anak-anakku di masa depan. Trik menghadapi kehidupan dengan sesama jenis, lawan jenis, proses berumahtangga baik dalam mengambil keputusan maupun bekerja sama antar anggota keluarga, sampai pada sikap bekerja dan memecahkan persoalan pekerjaan harus terkait pada kepercayaan yang dianut.
    ING MADYO MANGUN KARSO
    Seperti telah diketahui, guru harus berkolaborasi dengan sesama teman sejawat, siswa dan orang tua,
    Aku teringat setahun lalu ketika awal pandemi berlangsung. Siswa-siswaku yang semula ceria dan penuh semangat, tiba-tiba berubah. Aku panik menghadapi ini.
    Jelas sejak itu, aku mondar-mandir ruang Bimbingan Konseling. Bukan aku yang stress, tapi aku tidak tahu bagaimana menghadapi persoalan yang setipe ini.
    Uniknya, Guru bimbingan konseling di SMKS Medikacom, lima tahun silam, dia masih sebagai siswa ku di kelas. Saat ini dia adalah rekan kerjaku. Namanya Irfa’u Fatkiani Azzahri, S.Ag. Dia belajar di jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, SMK MedikaCom. Melanjutkan kuliah di UIN Sunan Gunung Djati jurusan Bimbingan dan Konseling selain passion, dia juga perduli pada adik kelasnya. Dia ingin memperbaiki dan meningkatkan nilai pembelajaran bagi murid SMK.
    Kita berdiskusi banyak hal. Aku membantunya mengurai benang merah siswa yang memiliki masalah komunikasi interpersonal, sebaliknya dia juga banyak membantu dengan teori-teori dasar pembimbingan yang terbaru. Mengapa aku harus membantunya ditengah kesibukanku mengajar? Murid bukan seonggok daging segar yang diberi hati, jantung dan otak yang harus dijejali ilmu rekayasa manusia; tetapi dia diciptakan untuk merasakan, melihat, menimbang, menguatkan agar mampu bertahan dalam kehidupan yang diberikan Tuhan padanya. Jika Irfa’u harus bekerja sendirian menghadapi ribuan siswa di sekolahku yang memiliki rasa yang berbeda, maka aku adalah guru yang tidak punya hati nurani.

    Gambar murid random kesulitan belajar Daring
    Aksi kita di masa pandemi memanggil random murid bermasalah dalam belajar daring; dikumpulkan, diberikan kertas untuk menggambarkan mind mapping kehidupan dan pendidikan mereka. Ini berguna untuk mengidentifikasi permasalahan mereka. Setelah mendapatkan, kita membagi tugas untuk menggali lebih dalam kesulitan belajar daring di rumah versi orang tua. Ibu Irfa’u menginformasikan permasalah yang dialami ke pihak pengelola sekolah. Sementara aku mengajak guru yang perduli dengan muridnya untuk bersama menjalankan pola interview yang tidak formal alias sambil mengobrol dengan orang tua murid. Ternyata masih banyak guru yang perduli. Ada yang dapat menyelesaikan persoalannya, meskipun masih ada juga orang tuanya yang tidak perduli. Biasanya kita selesaikan dengan cara home visit.
    Cerita berbeda ketika aku berkolaborasi dengan teman-teman guru bahasa Inggris. Kebetulan aku ditunjuk sekolah sebagai Guru Koordinator Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Jumlah guru bahasa Inggris di sekolahku hanya empat orang untuk tujuh program kejuruan yang dibuka satu diantaranya laki-laki. Satu sama lain berusaha membantu dan mendukung yang lain bila ada masalah terjadi.
    Hebatnya, mereka justru yang meminta diadakannya kegiatan yang berhubungan dengan olah karya dalam bentuk try out: peer teaching, sebelum kita terjun ke kelas, kita menguji coba dengan sesama teman. Dari kegiatan ini, banyak sekali yang kami praktikan di dalam kelas. Kami saling berbagi tip dan trik dalam mengatur kelas dan mengendalikan digital tools. Begitupun kemampuan komunikasi langsung, dengan siswa dan teman.

    Gambar Peer Teaching MGMP Bahasa Inggris SMK MedikaCom

    TUT WURY HANDAYANI
    Aku senang mendukung teman-temanku yang mengikuti lomba bersama anak-anak didiknya, mendukung bagaimana mereka mengolah karsa baik dalam pelatihan atau kegiatan khusus penerimaan tamu. Karena dengan begitu teman-temanku bertambah wawasan dan kemampuan mengelola diri, kelas dan orang lain.
    Ada yang mengikuti kegiatan Webinar pendidikan bersama dengan WISE Organization yang bermarkas di Uni Emirat Arab, atau World Class School yang bermarkas di negara Amerika Serikat. Bahkan kita masuk ke VLC Indonesia wadah bagi guru bahasa Inggris untuk melancarkan speaking dengan menggunakan critical thinking.

    Gambar Kegiatan WISE ORGANIZATION

    Saya membutuhan bantuan pada halaman berikut: [login untuk melihat tautan]

  • Anda harus login untuk membalas topik berikut.